Babat, SiRekan
Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Babat menggelar kegiatan “PATAS Sahur” pada Jumat dini hari, 28 Februari 2026, bertempat di Basecamp PC IPNU IPPNU Babat. Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi kritis menanggapi dua isu yang tengah menjadi perhatian publik, yakni kasus pembacokan terhadap Fara serta dugaan kekerasan seksual di salah satu pesantren di Kabupaten Lamongan.
Diskusi berlangsung khidmat dan penuh keprihatinan. Para kader menyoroti pentingnya menyikapi peristiwa tersebut secara bijak, tidak terprovokasi opini liar, serta mengedepankan asas tabayyun dan penghormatan terhadap proses hukum yang berjalan.
Dalam forum tersebut, pengurus harian PC IPNU-IPPNU Babat membedah berbagai aspek yang melatarbelakangi terjadinya kekerasan, mulai dari lemahnya kontrol emosi, minimnya edukasi relasi sehat di kalangan pelajar, hingga kurangnya kesadaran terhadap perlindungan diri dan lingkungan.
Selain itu, isu dugaan kekerasan seksual di lingkungan pesantren menjadi perhatian serius. Para kader sepakat bahwa lembaga pendidikan, baik sekolah maupun pesantren, harus menjadi ruang aman bagi pelajar dan santri. Namun demikian, forum juga menegaskan pentingnya tidak melakukan generalisasi yang dapat mencederai nama baik lembaga pendidikan secara keseluruhan.
Sebagai hasil diskusi, PC IPNU IPPNU Babat mengambil langkah tengah dengan fokus pada edukasi preventif kepada masyarakat sekitar. Edukasi ini dirancang dalam bentuk:
- Sosialisasi manajemen emosi bagi pelajar.
- Edukasi tentang relasi sehat dan etika pergaulan.
- Penyuluhan kesadaran hukum dan perlindungan terhadap korban.
- Penguatan literasi digital agar tidak mudah terprovokasi berita yang belum terverifikasi.
Ketua PC IPNU Babat, Rekan Abdul Ghofur, dalam penyampaiannya menegaskan:
“Hari ini yang menjadi korban bukan dari kerabat dekat kita, namun tidak menutup kemungkinan esok orang terdekat kita atau bahkan kita sendiri yang menjadi korban. Maka dari itu kita harus membedah secara utuh sebab dan akibat yang terjadi, kemudian mari kita tentukan langkah konkret kita ini!.”
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa organisasi pelajar tidak boleh apatis terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Sikap responsif, solutif, dan edukatif harus menjadi ciri gerakan pelajar Nahdliyin.
Melalui PATAS Sahur ini, PC IPNU IPPNU Babat menegaskan komitmennya untuk:
- Berdiri bersama korban tanpa menghakimi sebelum ada keputusan hukum tetap.
- Mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman.
- Menguatkan solidaritas sosial tanpa menyebarkan kebencian.
- Mengedepankan akhlak dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dalam merespons isu.
Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal gerakan edukatif berkelanjutan agar peristiwa serupa tidak kembali terulang. IPNU-IPPNU Babat berkomitmen menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton dalam dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Kontributor: M. Shofaul Fikri Arifin
Editor: Aji Santoso
Foto: PC IPNU IPPNU Babat
