IPNU, Stagnasi Ide, dan Kopi Dini Hari

Untuk para mubalig muda IPNU, kita harus jujur sekali lagi. Kenapa hasil Rapat Kerja (Raker) tahunan kita selalu sama template-nya? Mengapa program kerja kita selalu berkutat antara Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan Latihan Kader Muda (Lakmud), padahal dunia sudah pakai AI dan Metaverse?

Jawabannya sederhana: otak kita mandek karena berpikir terlalu formal. Stagnasi ide itu bukan karena kadernya bodoh, tapi karena cara berpikir yang dipaksa tunduk pada protokol ruang rapat. Di sana, ide paling berani justru dianggap bidah dan langsung dibunuh. Semua takut, semua menjaga marwah, dan akhirnya, yang keluar hanya ide-ide aman yang sudah basi.

Ironisnya, ruang rapat tidak bisa jadi tempat berinovasi, tetapi justru kuburan massal ide-ide cemerlang. Tempat di mana tradisi dan rutinitas dipuja sedemikian rupa sehingga kita lupa, Nahdlatul Ulama artinya “kebangkitan ulama, bukan “tidurnya ulama”.

Arah khidmah kita yang sejati, yang revolusioner, yang bisa membuat IPNU relevan di mata Gen Z, hanya muncul saat topeng-topeng itu terlepas. Lalu, di mana topeng itu terlepas? Tepat! Di tongkrongan kopi dini hari.

Saat kopi hitam pekat meresap ke sumsum tulang, saat mata telah perih begadang, di situlah kita berani bicara: “Coba deh, Makesta-nya kita ubah formatnya jadi Bootcamp Content Creator, dengan output satu podcast tiap peserta!”, atau misalnya, “Sekretaris tidak perlu sibuk mengurus data kader, semua urusan pendaftaran dan tracking data kader wajib pindah ke Notion dan Google Sheets!”.

Kejujuran ini, yang lahir dari girah dan desperation (kenekatan) untuk maju, adalah bahan bakar untuk membongkar mandeknya cara berpikir tadi. Di tongkrongan, tidak ada senioritas yang mencekik, tidak ada tekanan untuk terlihat syar’i, yang ada hanya kesamaan nasib: bagaimana organisasi ini bisa lebih baik tanpa harus menipu diri sendiri?

Pada intinya, Para kader NU, jika kita ingin benar-benar berkhidmah dan menghentikan stagnasi ide, jangan buang waktu di depan slide Power Point Raker. Segera pindah markas ke warung kopi terdekat. Di sanalah ijtimak (pertemuan) yang paling berkah terjadi, dan di sanalah arah organisasi yang sesungguhnya ditentukan.

Semoga tulisan ini bisa memantik diskusi, dan ada yang yg bisa diajak ngopi dini hari.

Penulis: Pelajar IPNU Sulut

Editor: Fahri Reza M.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *