Bagaimana Jika Ternyata Umat Kristen yang Masuk Surga?

Sering kali, cara kita menjalani kehidupan beragama tak ubahnya seperti seorang suporter sepak bola yang membela klub kesayangannya secara membabi buta. Kita berteriak paling keras, menyerang pihak lain dengan penuh emosi, bukan karena benar-benar memahami filosofi, nilai, atau strategi yang diyakini, melainkan semata karena kita “lahir” di lingkungan yang sama dengan identitas tersebut. Agama pun kerap direduksi menjadi sekadar simbol kebanggaan, bukan sebagai jalan sunyi untuk mendekat kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati.

Fenomena ini menyeret kita pada fanatisme identitas yang sempit. Kita merasa kelompok kitalah yang paling benar, sementara yang lain pasti salah, tanpa memberi ruang dialog yang jujur dan terbuka. Agama lalu berubah fungsi: dari sarana pencarian makna menjadi seragam gagah-gagahan di ruang publik. Yang dipertahankan bukan nilai dan akhlaknya, melainkan gengsi dan ego kelompok.

Untuk menguji kemurnian niat tersebut, ada baiknya kita berhenti sejenak dan melakukan sebuah eksperimen pikiran yang mungkin terasa mengganggu kenyamanan iman kita. Bayangkan, kelak di akhirat, ketika tirai kebenaran dibuka sepenuhnya oleh Tuhan, ternyata realitasnya tidak sejalan dengan apa yang selama ini kita banggakan. Misalnya—sebagai ilustrasi semata—andaikan ternyata agama Kristen yang dinyatakan benar, lalu kita diberi satu kesempatan kembali ke dunia. Pertanyaannya sederhana namun menghentak: apakah kita akan tetap memilih menjadi Muslim?

Pertanyaan ini memang terdengar provokatif dan bagi sebagian orang terasa lancang. Namun esensinya bukan untuk meragukan tauhid atau meremehkan keyakinan, melainkan untuk menguji kejujuran batin kita sendiri. Jika jawaban spontan yang muncul adalah “tetap Islam” meskipun kebenaran lain telah nyata di hadapan mata, maka kita patut waspada. Jangan-jangan, yang selama ini kita bela bukanlah Tuhan Yang Maha Esa, melainkan ego pribadi dan kebanggaan atas identitas yang kita warisi sejak lahir.

Dalam khazanah intelektual Islam, kondisi semacam ini dikenal sebagai penyakit ghurur—tipu daya spiritual. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan tentang orang-orang yang merasa sudah selamat hanya karena status formal sebagai pemeluk agama. Mereka merasa memiliki tiket eksklusif menuju surga, sehingga abai terhadap akhlak, kejujuran intelektual, dan pencarian kebenaran yang berkelanjutan. Inilah yang bisa disebut sebagai “mabuk identitas”.

Ironisnya, kita sering membanggakan konsep iman tahqiq—iman yang lahir dari kesadaran dan pengetahuan—namun dalam praktik sehari-hari justru merasa nyaman dengan iman taklid yang pasif, anti-kritik, dan alergi terhadap pertanyaan mendasar tentang keyakinan sendiri. Padahal, iman yang sejati tidak pernah takut diuji. Justru karena seorang mukmin mencintai kebenaran, ia berani bertanya: “Bagaimana jika saya keliru?”

Secara filosofis, sikap ini sejalan dengan pandangan Stoa sebagaimana tercermin dalam pemikiran Marcus Aurelius, bahwa manusia memiliki kewajiban moral untuk terus menguji persepsinya agar tidak terjebak dalam delusi kebenaran semu. Keyakinan yang tak berani dipertanyakan pada hakikatnya bukan iman, melainkan prasangka yang dibungkus dengan jubah kesucian.

Sebagai pelajar yang bergerak di bawah panji IPNU-IPPNU, kita dituntut untuk memiliki kedalaman berpikir, bukan sekadar menjadi barisan pengikut yang ramai namun hampa. Surga bukanlah hadiah lomba yang hanya bisa dimenangkan oleh pemegang kartu anggota kelompok tertentu. Dalam Islam yang moderat, Tuhan selalu menekankan keadilan, ketulusan niat, dan kesungguhan dalam mencari kebenaran. Pertanyaan “bagaimana jika yang lain yang benar?” berfungsi sebagai tamparan batin: apakah kita beragama untuk mendekat kepada Tuhan, atau sekadar untuk merasa paling unggul dari manusia lain?

Pada akhirnya, Tuhan tidak membutuhkan pembelaan yang buta dan emosional dari hamba-Nya. Yang Dia kehendaki adalah kejujuran dalam proses mencari, mengenal, dan mengabdi kepada-Nya. Keimanan yang tulus lahir dari rahim kesadaran, bukan semata dari warisan biologis atau fanatisme identitas. Maka, sudah saatnya kita menjadikan agama sebagai sarana membersihkan hati dari kesombongan dan klaim kebenaran sepihak, agar kita tumbuh menjadi manusia yang lebih manusiawi dan pelajar yang benar-benar terpelajar.

Penulis: Alif Dimas Wildany, Ketua PAC IPNU Pakusari
Editor: Achmad Subakti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *