Tahun Baru Islam dan Pentingnya Merawat Ingatan Kolektif

Tahun Baru Hijriah sering kali dimaknai sebagai momentum refleksi. Kita diajak menengok kembali perjalanan yang telah dilalui, sekaligus memikirkan jejak apa yang akan kita tinggalkan untuk masa depan. Dalam konteks tersebut, hijrah sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang perpindahan tempat atau perubahan perilaku pribadi. Hijrah juga dapat dimaknai sebagai perpindahan cara pandang, termasuk dalam memandang pengetahuan dan ingatan.

Setiap generasi mewarisi dua hal. Pertama, pengalaman dan yang kedua, pengetahuan. Pengalaman dapat hilang bersama pergantian kepemimpinan, tetapi pengetahuan dapat bertahan apabila didokumentasikan. Di sinilah literasi menemukan relevansinya, bukan sekadar sebagai kemampuan membaca dan menulis, melainkan sebagai instrumen untuk menjaga kesinambungan ingatan kolektif sebuah komunitas, organisasi, maupun daerah.

Dalam konteks organisasi pelajar IPNU. Literasi tidak dapat dipisahkan dari proses kaderisasi. Kaderisasi merupakan proses produksi dan transmisi pengetahuan, bukan hanya proses transfer nilai semata. Sebuah organisasi akan terus berkembang apabila setiap generasi mampu mewariskan gagasan, pengalaman, refleksi, dan pembelajarannya kepada generasi berikutnya.

Namun di tengah beragam aktivitas yang terus berlangsung, terdapat satu paradoks yang patut menjadi perhatian bersama. Kita menyaksikan forum kaderisasi, pelatihan, diskusi, konferensi, rapat hingga berbagai aktivitas pengabdian masyarakat yang diselenggarakan setiap tahun, setiap bulan, hingga setiap minggu, tidak semua pengalaman tersebut bertransformasi menjadi pengetahuan yang terdokumentasikan.

Sering kali sebuah kegiatan berakhir dengan selesainya sebuah acara. Dokumentasi yang tersisa hanyalah foto, laporan singkat, atau unggahan media sosial. Padahal, di balik setiap kegiatan terdapat pengalaman organisasi, dinamika kepemimpinan, pelajaran lapangan hingga gagasan yang seharusnya dapat menjadi bahan belajar bagi kader setelahnya. Akibatnya, tidak sedikit gagasan berhenti sebagai percakapan. Tidak sedikit pengalaman berakhir sebagai kenangan, dan tidak sedikit pembelajaran organisasi hilang bersama berakhirnya masa kepengurusan.

Dalam perspektif pembangunan organisasi, keberlangsungan sebuah gerakan tidak hanya ditentukan oleh intensitas aktivitasnya, tetapi juga oleh kemampuannya mengarsipkan pengalaman, mengelola pengetahuan, dan mentransmisikan gagasan lintas generasi. Organisasi yang hanya mengandalkan kuantitas aktivitas, berisiko mengalami pengulangan masalah yang sama. Sebaliknya, organisasi yang memiliki tradisi literasi yang kuat, akan mengalami akumulasi pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Oleh karena itu, menurut hemat saya, salah satu tantangan yang masih dihadapi kaderisasi pelajar hari ini bukanlah kurangnya kegiatan, melainkan masih terbatasnya dokumentasi intelektual yang lahir dari pengalaman kaderisasi itu sendiri. Kita memiliki banyak kader yang aktif, kreatif, dan memiliki pengalaman organisasi yang kaya. Namun jumlah artikel, esai, buku, penelitian, maupun karya tulis yang lahir dari pengalaman tersebut masih belum sebanding dengan potensi yang dimiliki. Lebih dalam lagi, kurangnya khazanah perihal wajah IPNU itu sendiri.

Tentu kondisi ini bukan untuk disesali, melainkan menjadi bahan refleksi bersama. Sebab organisasi yang besar tidak hanya membutuhkan pelaksana kegiatan, tapi juga butuh penulis, peneliti, dokumentator, dan produsen pengetahuan yang mampu merekam denyut kehidupan organisasi ke dalam bentuk karya yang dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Tradisi ini sesungguhnya bukan sesuatu yang asing dalam lingkungan Nahdlatul Ulama. Sejak awal, NU tumbuh dalam tradisi keilmuan yang kuat. Para ulama tidak hanya hadir sebagai pengajar dan penggerak masyarakat, tetapi juga sebagai produsen pengetahuan yang meninggalkan jejak pemikiran melalui kitab, risalah, manuskrip, dan berbagai karya tulis lainnya. Berkat tradisi dokumentasi tersebut, gagasan para ulama tetap dapat dipelajari lintas ruang dan waktu.

Merawat Ingatan Lewat Buku Bogor Belum Selesai Ditulis

Dalam khazanah NU dikenal prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Prinsip tersebut sesungguhnya tidak hanya berlaku dalam praktik keagamaan, tetapi juga dalam tradisi intelektual. Menjaga tradisi berarti merawat pengetahuan yang telah diwariskan. Mengambil hal baru berarti terus menghasilkan gagasan dan karya yang relevan dengan tantangan zaman. Dari tradisi itulah kita belajar bahwa menulis bukan sekadar aktivitas intelektual individual. Menulis adalah upaya merawat ingatan. Menulis adalah bentuk tanggung jawab terhadap pengetahuan yang kita miliki. Menulis juga merupakan ikhtiar agar pengalaman tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Atas dasar itu, saya percaya bahwa kaderisasi tidak cukup hanya melahirkan pemimpin. Kaderisasi juga harus melahirkan produsen pengetahuan. Organisasi yang hanya menghasilkan pemimpin akan berganti setiap periode. Namun organisasi yang menghasilkan pengetahuan akan terus hidup melampaui pergantian kepemimpinan.

Kesadaran inilah yang kemudian mendorong saya pribadi untuk menulis buku Bogor Belum Selesai Ditulis. Buku tersebut lahir dari kegelisahan sederhana, mengapa banyak cerita tentang daerah yang perlahan menghilang tanpa sempat didokumentasikan? Mengapa kita sering kali lebih mengenal daerah lain dibandingkan lingkungan tempat kita sendiri tumbuh dan berkembang?

Kabupaten Bogor selama ini lebih sering dikenal melalui statistik penduduk, kawasan wisata, atau posisinya sebagai daerah penyangga Jakarta. Padahal di balik identitas tersebut terdapat lapisan-lapisan cerita yang jauh lebih kaya. Ada bentang alam yang membentuk karakter masyarakat, ada situs-situs yang menjadi bagian dari sejarah kehidupan warga, ada satwa endemik yang menjaga keseimbangan ekosistem, serta ada tradisi dan kebudayaan yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.

Melalui buku tersebut, saya mencoba mempertemukan sastra dengan dokumentasi sosial, refleksi dengan fakta, serta pengalaman dengan data. Tujuannya bukan untuk memberikan definisi tunggal tentang Bogor, melainkan menghadirkan ruang untuk mengenali daerah ini secara lebih utuh.

Bagi saya, menulis tentang daerah merupakan salah satu bentuk aktualisasi dari semangat hubbul wathan minal iman. Sebab mencintai tanah air tidak selalu harus diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar. Kadang-kadang, cinta itu hadir dalam bentuk yang sederhana: mengenali lingkungan sekitar, memahami sejarah daerah sendiri, merawat kebudayaan lokal, lalu mendokumentasikannya agar tidak hilang ditelan waktu.

Di sinilah saya melihat hubungan yang erat antara literasi dan kaderisasi. Kaderisasi tanpa dokumentasi hanya melahirkan pergantian generasi. Sebaliknya, kaderisasi yang disertai tradisi literasi akan melahirkan akumulasi pengetahuan. Organisasi tidak hanya bergerak, tetapi juga belajar. Tidak hanya berkegiatan, tetapi juga berpikir. Tidak hanya hadir pada masanya, tetapi meninggalkan jejak bagi masa depan.

Saya berharap semakin banyak kader IPNU yang berani menulis. Tidak harus dimulai dari buku. Artikel, catatan refleksi, esai, penelitian sederhana, hingga dokumentasi pengalaman organisasi adalah langkah awal yang sama pentingnya. Sebab setiap tulisan yang lahir, sesungguhnya adalah upaya kecil untuk menjaga agar pengalaman tidak hilang dan pengetahuan tidak terputus.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak kekurangan kader dan kegiatan. Yang masih perlu diperkuat adalah keberanian mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, dan dari pengetahuan menjadi karya. Sebab organisasi yang besar tidak hanya dikenang melalui peristiwa-peristiwanya, tetapi juga melalui gagasan yang berhasil diwariskannya.

Setiap daerah memiliki cerita yang berharga untuk dikenali, dan setiap cerita yang dituliskan adalah bagian dari ikhtiar untuk merawat ingatan bersama. Pada akhirnya, saya mengajak kepada siapa pun untuk mulai menuliskan halaman baru untuk mewariskan khazanah literasi IPNU, karena memori yang tidak ditulis akan mati dua kali.

Penulis: Rifky Khairy, Wakil Ketua PW IPNU Jawa Barat

Editor: Fahri Reza M.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *