Pelajar NU Menghadapi AI: Antara Kemudahan dan Kemandirian Berpikir

Sumber: Ilustrasi AI

SiRekan, AI bisa membantu pelajar menemukan jawaban dalam hitungan detik. Namun, jika setiap persoalan diserahkan kepada mesin, apakah pelajar masih belajar berpikir? Pertanyaan ini layak menjadi perhatian Kongres XXI Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Tantangan pelajar NU hari ini bukan sekadar menguasai kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), melainkan memanfaatkannya tanpa kehilangan daya kritis, kemandirian belajar, dan adab dalam mencari ilmu.

Semangat Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober mengingatkan bahwa generasi muda selalu menghadapi tantangan sesuai zamannya. Jika pemuda dahulu berjuang membangun persatuan bangsa, pelajar hari ini dituntut mampu menghadapi arus informasi dan perkembangan teknologi. Mereka tidak cukup menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu memanfaatkannya untuk belajar, berkarya, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

AI menawarkan kemudahan untuk mencari informasi, memahami pelajaran, hingga mengembangkan gagasan. Namun, kemudahan itu dapat menjadi persoalan ketika jawaban instan menggantikan proses berpikir. Pelajar berisiko menerima informasi tanpa memeriksa kebenarannya atau menghasilkan karya tanpa benar-benar memahami isinya. Persoalannya bukan pada teknologi semata, melainkan pada kesiapan penggunanya dalam memahami batas, risiko, dan tanggung jawab penggunaannya.

Peringatan ini sejalan dengan arahan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Sebagaimana diberitakan NU Online pada (24/09/2026), ia menekankan pentingnya memanfaatkan kemajuan digital untuk kemaslahatan umat tanpa kehilangan jati diri dan tradisi keilmuan pesantren. Pesan tersebut menegaskan bahwa kemajuan teknologi perlu berjalan bersama penguatan ilmu, adab, dan tanggung jawab.

Sementara itu, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU, KH Hodri Arief, mengingatkan bahwa AI bukan satu-satunya sumber kebenaran. Dalam pemberitaan NU Online pada 30 Juni 2026, ia menekankan pentingnya memeriksa informasi melalui tradisi tabayun. Di sisi lain, Gerakan Pesantren Cakap AI yang diberitakan NU Online pada 22 Januari 2026 menargetkan 40.000 peserta dari kalangan pelajar, pengajar, dan pengurus NU. Inisiatif ini menunjukkan bahwa kecakapan AI perlu dibangun melalui pembelajaran yang terarah, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.

Bagi pelajar NU, pesan tersebut memiliki makna penting. Tradisi pesantren mengajarkan bahwa mencari ilmu bukan hanya soal memperoleh jawaban, tetapi juga memahami sumber, menjaga adab, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan. Prinsip al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah mengambil hal baru yang lebih baik dapat menjadi pijakan dalam menyikapi AI. Teknologi perlu dimanfaatkan untuk kemajuan, tetapi tidak diterima begitu saja tanpa pertimbangan kritis.

Karena itu, IPNU perlu menerjemahkan isu AI menjadi agenda kaderisasi yang nyata. Pelatihan literasi AI harus mencakup cara menggunakan teknologi, memeriksa fakta, menjaga kejujuran dalam berkarya, dan melindungi data pribadi. Program tersebut juga perlu menjangkau kader hingga tingkat ranting dan komisariat agar kesempatan belajar tidak hanya dinikmati mereka yang memiliki akses teknologi memadai. AI seharusnya membantu kader mengembangkan gagasan, bukan menggantikan proses berpikir mereka.

Kongres XXI IPNU semestinya tidak berhenti pada slogan kesiapan menghadapi era digital. Organisasi perlu merumuskan program yang terukur dan membangun budaya berkarya yang mengutamakan kualitas gagasan, ketepatan informasi, serta manfaat bagi masyarakat. Keberhasilan kaderisasi tidak cukup dilihat dari banyaknya konten yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan kader memahami persoalan, berpikir mandiri, dan bertanggung jawab atas karya mereka.

Pada akhirnya, menaklukkan AI bukan berarti mengalahkan teknologi, melainkan menggunakannya tanpa kehilangan kendali atas pikiran dan tindakan sendiri. Pelajar NU harus berani menguasai teknologi, tetapi tetap tekun belajar, kritis memeriksa informasi, dan teguh menjaga adab. Sebab, masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang mahir menggunakan mesin, tetapi juga manusia yang mampu berpikir jernih dan menempatkan kemajuan bagi kemaslahatan bersama.

Penulis: Ikbar Zakariya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *