Pandeglang, SiRekan
Momentum Hari Lahir (Harlah) ke-72 Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama bukan sekadar seremoni tahunan yang dipenuhi ucapan selamat dan nostalgia sejarah. Lebih dari itu, usia 72 tahun adalah cermin kedewasaan organisasi sebuah fase yang menuntut refleksi, evaluasi, sekaligus peneguhan arah gerak di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Tema “Meneguhkan Khidmat Pelajar Menuju Peradaban Mulia” terasa relevan dengan tantangan generasi hari ini. Pelajar tidak lagi hidup dalam ruang sosial yang sederhana. Mereka berada di pusaran digitalisasi, banjir informasi, disrupsi teknologi, dan pergeseran nilai yang begitu dinamis. Dalam situasi seperti ini, IPNU dituntut tidak hanya bertahan, tetapi memimpin.
Sejak awal berdirinya, IPNU hadir sebagai wadah kaderisasi pelajar Nahdlatul Ulama. Ia bukan sekadar organisasi struktural, melainkan ruang pembelajaran ideologis, intelektual, dan sosial. Dari rahim IPNU, lahir kader-kader yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki komitmen keislaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang kuat.
Namun pertanyaannya, apakah fungsi kaderisasi itu masih berjalan optimal? Ataukah IPNU hanya menjadi tempat singgah administratif tanpa proses pembinaan yang berkelanjutan?Di usia ke-72 ini, penguatan kaderisasi harus menjadi prioritas utama. Kaderisasi tidak boleh eksklusif, tetapi inklusif dan adaptif. IPNU perlu membuka diri terhadap dinamika zaman tanpa kehilangan jati diri ideologisnya. Pendekatan pembinaan harus relevan dengan kebutuhan pelajar masa kini yang kritis, kreatif, dan akrab dengan teknologi.
Digitalisasi menjadi keniscayaan. Platform digital bukan sekadar media publikasi kegiatan, melainkan ruang dakwah, ruang diskusi, dan ruang narasi tanding terhadap arus informasi yang kerap tidak sejalan dengan nilai-nilai keislaman moderat. Jika IPNU tidak hadir di ruang ini secara serius, maka pelajar akan mencari referensi lain yang belum tentu sejalan dengan tradisi Aswaja.
Selain itu, sinergi kelembagaan juga menjadi kebutuhan mendesak. IPNU tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan badan otonom NU, lembaga pendidikan, hingga pemerintah daerah akan memperluas dampak gerakan. Organisasi pelajar harus mampu menghadirkan program yang konkret dan dirasakan manfaatnya oleh anggota maupun masyarakat.Tak kalah penting, IPNU perlu memperkuat pembekalan soft skill dan hard skill. Kader hari ini adalah pemimpin masa depan. Mereka harus dibekali kemampuan komunikasi, manajemen organisasi, kepemimpinan, literasi digital, hingga kewirausahaan. Organisasi tidak cukup hanya membentuk loyalitas, tetapi juga kompetensi.
Meneguhkan khidmat berarti menjaga komitmen pengabdian. Khidmat bukan slogan, melainkan kerja nyata. Ia terwujud dalam solidaritas kader, kekuatan ukhuwah, serta kesediaan menjadi solusi atas persoalan sosial di sekitar.
IPNU telah melewati perjalanan panjang. Tujuh dekade lebih bukan waktu yang singkat. Namun sejarah besar hanya akan menjadi kebanggaan kosong jika tidak diterjemahkan dalam langkah strategis hari ini.
Harlah ke-72 harus menjadi titik tolak pembaruan gerakan. Dari IPNU, harus terus lahir generasi pelajar yang cerdas, berakhlak, berdaya saing, dan siap membawa perubahan. Karena peradaban yang mulia tidak lahir dari wacana semata, tetapi dari kader-kader yang ditempa dengan nilai, ilmu, dan keteguhan khidmat. (*)
Kontributor: Uci Nunggala
Editor: Ikbar Zakariya
