Latin–Latpel PC IPNU–IPPNU Ciamis Perkuat Standarisasi dan Praktik Kaderisasi

Ciamis, SiRekan
Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Ciamis menyelenggarakan Latihan Instruktur dan Latihan Pelatih (Latin–Latpel) selama tiga hari, Jumat hingga Ahad, 9–11 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Baitul Hikam As Shofa, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, sebagai upaya memperkuat kualitas, praktik, dan standarisasi kaderisasi IPNU–IPPNU.

Latin–Latpel ini diikuti oleh 25 peserta yang terdiri atas 16 peserta Latin dan 9 peserta Latpel. Selain berasal dari Kabupaten Ciamis, peserta juga datang dari berbagai daerah lain seperti Pangandaran, Sumedang, Majalengka, dan Cirebon. Keikutsertaan peserta lintas daerah tersebut menambah kekayaan dinamika diskusi serta praktik pelatihan selama kegiatan berlangsung.

Sebelum memasuki tahapan pelatihan inti, seluruh peserta telah melalui proses skrining pada 4–6 Januari 2026. Proses ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga melalui pengumpulan karya tulis dan video yang memotret kondisi kaderisasi di wilayah masing-masing. Tahapan tersebut menjadi dasar pemetaan kebutuhan pelatihan sekaligus tolok ukur kesiapan dan tanggung jawab peserta dalam mengawal kaderisasi ke depan.

Ketua Panitia, Alis, menjelaskan bahwa Latin–Latpel dirancang untuk mencetak instruktur IPNU dan pelatih IPPNU yang memiliki kapasitas profesional, integritas ideologis, serta komitmen kuat terhadap kaderisasi berkelanjutan.

“Latin–Latpel ini tidak hanya berorientasi pada kelulusan peserta, tetapi pada kesiapan mereka untuk terjun langsung mengawal kaderisasi. Kami ingin melahirkan instruktur dan pelatih yang memiliki kesadaran ideologis dan mampu menjaga kualitas kaderisasi IPNU–IPPNU secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, pelatihan menggunakan pendekatan andragogi dengan model full participatory training yang menempatkan peserta sebagai subjek aktif. Metode yang digunakan meliputi brainstorming, diskusi kelompok, focus group discussion (FGD), praktik fasilitasi, hingga sharing experience. Pendekatan ini bertujuan agar peserta mampu mengontekstualisasikan materi dengan realitas kaderisasi di wilayah masing-masing.

Materi pelatihan disusun secara komprehensif dan tematik, mencakup penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah dan ke-NU-an, sistem dan jenjang kaderisasi IPNU–IPPNU, psikologi pelatihan kader, metodologi dan evaluasi pelatihan, manajemen pelatihan, metode dan media pelatihan, serta penguatan kapasitas keinstrukturan, kepelatihan, dan public speaking.

Salah satu narasumber, Kyai Tatang Nawawi, S.Pd.I., dalam materinya menegaskan pentingnya fondasi ideologi dalam kaderisasi.

“Instruktur dan pelatih IPNU–IPPNU harus kokoh secara Aswaja. Tanpa landasan ideologi yang kuat, kaderisasi akan kehilangan arah dan ruh perjuangannya,” tuturnya.

Sementara itu, Muhammad Khotami, S.H., CPM, yang menyampaikan materi sistem kaderisasi, menekankan bahwa kaderisasi IPNU–IPPNU harus berjalan terstruktur dan berkelanjutan.

“Kaderisasi bukan sekadar agenda formal, tetapi proses panjang yang harus dirancang secara sistematis agar mampu melahirkan kader yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan,” jelasnya.

Dalam materi metodologi dan evaluasi pelatihan kader, Moch. Wahab Hasbulloh, S.Pd.I., S.E., Sy., menyampaikan bahwa pelatihan kader harus mampu menjawab tantangan zaman.

“Pelatihan kader hari ini harus adaptif. Evaluasi menjadi bagian penting agar kaderisasi tidak berjalan monoton, tetapi terus berkembang sesuai kebutuhan organisasi dan zaman,” ujarnya.

Sejumlah instruktur dari Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Barat, di antaranya Muhammad Reza dan Asep Mansyur, terlibat aktif dalam proses pendampingan peserta. Pendampingan dilakukan melalui sesi review materi, FGD, praktik fasilitasi, hingga simulasi pelatihan yang dilaksanakan secara berkelanjutan untuk mengukur pemahaman, kesiapan mental, serta keterampilan peserta dalam mengelola forum pelatihan.

Ketua PC IPNU Kabupaten Ciamis, Irman Muhamad Farhan, menegaskan bahwa akselerasi kaderisasi menjadi kebutuhan organisasi di tengah dinamika zaman yang terus berkembang.

“Kaderisasi hari ini tidak cukup hanya berjalan, tetapi harus memiliki standar yang jelas. Karena itu, kualitas instruktur dan pelatih menjadi fondasi utama agar kaderisasi IPNU–IPPNU tetap terjaga arah dan keberlanjutannya,” tuturnya.

Instruktur PW IPNU Jawa Barat sekaligus Instruktur Nasional PP IPNU, Rekan Muhammad Reza, mengapresiasi kesungguhan peserta selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ia menegaskan bahwa Latin–Latpel merupakan wahana strategis dalam menyiapkan calon instruktur yang memiliki orientasi continuous improvement dalam kaderisasi.

“Instruktur dan pelatih harus menjadi katalisator kaderisasi. Mereka bukan hanya menyampaikan materi, tetapi menjaga ruh organisasi, kesinambungan regenerasi kepemimpinan, serta memperkuat kolaborasi lintas jenjang,” tegasnya.

Melalui rangkaian materi, praktik fasilitasi, dan evaluasi yang dilakukan secara berkesinambungan, Latin–Latpel ini diharapkan mampu melahirkan instruktur dan pelatih yang siap diterjunkan dalam kegiatan kaderisasi formal seperti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan Latihan Kader Muda (Lakmud), serta menjaga kesinambungan kaderisasi di tingkat cabang hingga pimpinan anak cabang.

Dengan pendekatan yang interaktif dan aplikatif, Latin–Latpel PC IPNU–IPPNU Kabupaten Ciamis menjadi bukti bahwa kaderisasi bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan organisasi.

“Bravo IPNU–IPPNU, Bravo Kaderisasi,” pungkasnya.

Kontributor: Muhammad Reza
Editor: Achmad Subakti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *