Kader IPNU Purwakarta Melangkah ke Forum Internasional, Bawa Gagasan Santri ke 3 Negara

Purwakarta, SiRekan
Bagi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Purwakarta, kesempatan Chandra Aditya Nurriefan mengikuti International Conference Santri Mendunia (ICSM) bukan sekadar pencapaian seorang kader. Keikutsertaan kader Pimpinan Cabang (PC) IPNU Kabupaten Purwakarta itu menjadi bagian dari perjalanan organisasi dalam memperluas ruang belajar, pengalaman, dan jejaring kader hingga tingkat internasional.

Chandra yang juga merupakan santri Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, dinyatakan lolos sebagai delegasi ICSM. Ia dijadwalkan mengikuti rangkaian kegiatan di tiga negara Asia Tenggara, yakni Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Perjalanan tersebut bermula dari proses seleksi yang harus dilalui Chandra secara bertahap. Seleksi meliputi administrasi, karya tulis, pembuatan video kreatif, hingga wawancara. Setiap tahapan menjadi ruang bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan, wawasan, serta gagasan yang dimiliki.

Dalam seleksi karya tulis, peserta diminta menyampaikan gagasan mengenai peran strategis santri dalam menghadapi perkembangan zaman. Sementara melalui video kreatif, peserta menunjukkan kemampuan menyampaikan nilai-nilai kepesantrenan melalui media digital.

Seleksi kemudian berlanjut ke tahap wawancara. Pada tahap ini, sejumlah aspek menjadi perhatian, antara lain wawasan keislaman, intelektualitas, wawasan global, pemahaman budaya Nusantara, kemampuan komunikasi, serta komitmen sebagai generasi muda.

Bagi IPNU Kabupaten Purwakarta, pengalaman tersebut menjadi salah satu ruang bagi kader untuk mengembangkan kapasitas di luar lingkungan organisasi. Aktivitas kaderisasi tidak hanya berlangsung melalui forum internal, tetapi juga melalui kesempatan untuk bertemu, berdiskusi, dan bertukar gagasan dengan generasi muda dari berbagai daerah dan latar belakang.

Melalui ICSM, Chandra akan mengikuti sejumlah agenda, mulai dari seminar internasional, forum diskusi dan presentasi, kunjungan kampus, kunjungan budaya, hingga kunjungan institusional. Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung di Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Di forum tersebut, isu mengenai santri, pesantren, pendidikan, budaya, teknologi, dan perkembangan global menjadi bagian dari ruang diskusi. Bagi seorang kader IPNU, forum semacam ini sekaligus menjadi kesempatan untuk membawa pengalaman organisasi dan nilai-nilai kepesantrenan ke ruang perjumpaan yang lebih luas.

Chandra berharap pengalaman yang diperolehnya tidak berhenti sebagai capaian pribadi. Ia ingin membawa pulang pengetahuan dan jejaring baru yang dapat dibagikan kepada kader IPNU dan santri di Purwakarta.

“Harapan saya dapat menyerap wawasan pendidikan dan kebudayaan global secara inklusif untuk kemudian diterapkan setelah kembali ke tanah air. Saya juga ingin membawa pulang pengetahuan dan jejaring baru yang dapat memberikan manfaat bagi kader-kader IPNU serta rekan-rekan santri di Purwakarta,” ujar Chandra Aditya Nurriefan.

Ia juga memandang wawasan global dan nilai-nilai kepesantrenan sebagai dua hal yang dapat berjalan beriringan. Menurut Chandra, keterbukaan terhadap perkembangan dunia perlu tetap disertai dengan pijakan nilai dan identitas sebagai santri.

“Santri harus memiliki wawasan global, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai pesantren dan jati diri sebagai bagian dari generasi muda Indonesia,” katanya.

Keikutsertaan Chandra dalam ICSM menjadi bagian dari dinamika kaderisasi IPNU Kabupaten Purwakarta. Organisasi pelajar NU tersebut menjadi ruang bagi kader untuk belajar berorganisasi, mengembangkan kemampuan komunikasi, sekaligus memperluas pengalaman melalui berbagai kesempatan.

Dari lingkungan pesantren dan organisasi, langkah Chandra kini berlanjut ke forum internasional. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi dirinya sekaligus pengetahuan yang nantinya dapat dibagikan kembali kepada pelajar, santri, dan kader IPNU di Kabupaten Purwakarta.

Dengan demikian, perjalanan seorang kader IPNU ke forum internasional tidak berhenti pada keberangkatan seorang individu. Di baliknya, terdapat proses kaderisasi, pengalaman organisasi, dan upaya memperluas ruang belajar agar kader IPNU dapat terus tumbuh dan berjejaring di tengah perubahan zaman.

Kontributor: Muhammad Rizky
Editor: Ikbar Zakariya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *