Organisasi adalah tempat di mana pikiran seharusnya dibebaskan. Bebas untuk berbeda, bebas untuk mengkritik, dan bebas untuk menyampaikan gagasan. Akan tetapi, kebebasan itu tidak berdiri sendiri, kita juga belajar satu hal penting: memahami batas. Bukan batas yang mematikan pikiran, melainkan batas agar pikiran bisa disampaikan dengan cara yang tepat dan bertanggung jawab.
Di dalam organisasi, setiap orang datang dengan isi kepala yang berbeda-beda. Ada yang membawa keyakinan, latar belakang, dan cara pandang masing-masing. Hal itu wajar, bahkan justru menjadi kekuatan. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan bisa berubah menjadi ego. Di sinilah organisasi berperan sebagai ruang belajar, bukan hanya soal memimpin atau menjalankan program, tetapi juga belajar menahan diri, mendengar, dan memahami tujuan bersama.
Hal yang sama juga saya lihat dalam IPNU-IPPNU. Sebagai organisasi pelajar, IPNU-IPPNU bukan sekadar wadah berkumpul, tetapi tempat menempa cara berpikir. Selain membawa misi syiar ahlusunah waljamaah, IPNU-IPPNU memiliki tanggung jawab untuk melahirkan pelajar yang kritis terhadap setiap gerakan dan keputusan yang diambil. Kritis di sini bukan berarti selalu menentang, tetapi berani bertanya, menimbang, dan memberi masukan demi kebaikan organisasi.
Namun, jujur harus diakui, dalam praktiknya IPNU-IPPNU sering menghadapi tantangan. Tidak mudah menjalankan peran sebagai pelajar yang dinamis di tengah berbagai keterbatasan. Kadang organisasi berjalan lebih fokus pada rutinitas kegiatan, sementara ruang diskusi dan pemikiran belum dimaksimalkan. Pelajar yang seharusnya menjadi subjek pemikiran, perlahan justru menjadi pelaksana tanpa banyak ruang refleksi.
Meski begitu, saya melihat IPNU-IPPNU terus berusaha berbenah. Hal ini bisa dilihat dari struktur organisasi yang cukup lengkap. Ada wakil ketua di berbagai bidang, mulai dari organisasi, kaderisasi, dakwah hingga bidang-bidang lain yang menopang jalannya pergerakan. Ditambah lagi dengan keberadaan lembaga-lembaga yang mendukung kerja organisasi. Semua itu menunjukkan bahwa IPNU-IPPNU serius membangun dirinya sebagai organisasi pelajar.
Tantangannya sekarang bukan hanya soal struktur, tetapi bagaimana menghidupkan isinya. Budaya berpikir kritis perlu terus didorong, bukan malah dihindari. Kritik seharusnya dipahami sebagai bentuk kepedulian, bukan ancaman. Selama disampaikan dengan etika dan niat membangun, kritik justru menjadi tanda bahwa organisasi itu hidup.
Telaah saya, IPNU-IPPNU punya peluang besar untuk menciptakan generasi pelajar yang tidak hanya aktif secara struktural, tetapi juga sadar akan perannya sebagai agen perubahan. Pelajar yang berani berpikir, berani bersuara, namun tetap berpegang pada nilai aswaja sebagai pedomannya. Proses itu memang tidak instan, tapi selama ada kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri, IPNU-IPPNU akan tetap relevan dan bermakna bagi pelajar hari ini dan hari depan.
Penulis: Moh. Reno Nur Renata
Editor: Fahri Reza M.
