Kalau kamu pikir melatih tim sekelas Real Madrid itu susah, coba sekali-kali jadi Instruktur IPNU di acara Makesta (Masa Kesetiaan Anggota). Bedanya tipis: pelatih sepak bola pusing mikirin formasi 4-3-3, sementara Instruktur IPNU pusing mikirin bagaimana caranya puluhan pelajar yang baru bangun tidur bisa paham materi Ke-Aswaja-an tanpa ada yang matanya lowbat alias ngantuk berat.
Gaya masuk kelasnya pun sudah mirip Pep Guardiola. Pakai kemeja rapi yang dimasukkan, ID Card dikalungkan layaknya peluit, dan langkah kaki yang mantap seolah sedang menuju technical area di Stadion Etihad. Begitu sampai di depan kelas, dia tidak langsung mengucap salam, tapi memandang audiens dengan tatap mata tajam, seolah sedang memindai siapa saja kader yang semalam begadang main Mobile Legends dan mana yang beneran baca kitab.
Instruktur model begini biasanya punya asisten (Co-Instruktur) yang perannya mirip asisten pelatih di bangku cadangan. Si asisten ini sibuk bawa papan tulis, spidol, dan sesekali membisikkan “statistik” ke telinga Instruktur utama: “Ndan, peserta baris belakang sudah mulai oleng, sepertinya butuh ice breaking atau kopi sachet sesegera mungkin.” Ini adalah momen krusial di mana taktik harus diubah dari menyerang (materi berat) menjadi bertahan (guyonan santai).
Saat sesi tanya jawab dimulai, atmosfer berubah jadi sesi konferensi pers pasca-pertandingan. Jika ada kader yang bertanya dengan kritis, Instruktur akan tersenyum simpul ala Jose Mourinho, lalu menjawab dengan retorika yang memutar-mutar dulu sebelum menusuk ke jantung pertahanan lawan. “Pertanyaan yang bagus, tapi kamu harus ingat, dalam organisasi kita tidak butuh one-man show, kita butuh chemistry antar departemen!” pungkasnya sambil menunjuk logo di dada.
Masalah kedisiplinan adalah hal sakral. Telat masuk kelas lima menit saja, kamu bakal kena “kartu kuning” berupa teguran halus tapi nyelekit. Kalau sudah telat berkali-kali? Jangan harap bisa masuk starting eleven pengurus harian. Kamu bakal disuruh berdiri di pojokan atau disuruh membacakan teks Pancasila dengan nada opera, sebuah hukuman yang lebih memalukan daripada disuruh lari keliling lapangan bola dalam kondisi hujan deras.
Tak jarang, Instruktur ini juga merangkap jadi motivator ulung ala Jurgen Klopp. Di tengah malam saat sesi pembaiatan, dia akan memberikan half-time talk yang menggebu-gebu. Dengan suara serak-serak basah karena kebanyakan teriak, dia akan bilang, “Kalian adalah masa depan NU! Jangan biarkan gawang peradaban kita kebobolan oleh paham radikal!” Seketika, para kader yang tadinya mengantuk langsung merasa punya energi tambahan seolah baru saja disuntik vitamin.
Gaya bicaranya pun penuh dengan istilah “bola” yang dipaksakan masuk ke ranah organisasi. “Kita harus melakukan high pressing terhadap kemalasan,” atau “Jangan sampai ada miss-communication saat melakukan passing program kerja.” Bagi kader baru, istilah-istilah ini terdengar keren sekaligus membingungkan, tapi mereka tetap manggut-manggut saja karena karisma sang Instruktur memang berada di level Liga Champions.
Namun, di balik kegarangannya yang mirip Sir Alex Ferguson saat melempar sepatu ke David Beckham, Instruktur IPNU punya sisi lembut. Selesai acara, dia adalah orang pertama yang akan mengajakmu makan mie instan di pojokan tenda. Di sanalah dia melepas jas instruktur dan berubah jadi kakak yang asyik diajak curhat, mulai dari urusan organisasi sampai urusan “transfer pemain” alias cara mendekati kader IPPNU di kecamatan sebelah.
Pada akhirnya, menjadi Instruktur IPNU memang bukan soal memenangkan trofi atau medali emas. Ini adalah soal memastikan “pertandingan” pengabdian terus berjalan selama 90 menit (atau dua tahun masa jabatan). Mereka sadar bahwa kader adalah pemain muda yang butuh bimbingan, bukan sekadar angka di atas kertas absensi. Barokah adalah skor akhir yang mereka kejar, bukan sekadar tepuk tangan meriah di akhir sesi.
Jadi, kalau nanti kamu ikut Makesta dan ketemu Instruktur yang gayanya sudah mirip pelatih kelas dunia, ikuti saja permainannya. Siapa tahu, lewat sentuhan taktiknya yang “renyah” itu, kamu bukan cuma jadi kader yang jago organisasi, tapi juga jadi “pemain bintang” yang siap mencetak gol kebaikan di masyarakat. Ingat, di organisasi ini, kita tidak main untuk seri, kita main untuk mengabdi!
Penulis: Munir Hadi, Instruktur PW IPNU Daerah Istimewa Yogyakarta
Editor: Achmad Subakti
