Tulungagung, SiRekan
Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung melalui anggota Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) sukses menggelar Seminar Kepenulisan di Aula Prajna Paramita lantai 5, Jumat (22/05/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Menghidupkan Makna Tulisan dengan Menyelami Kebutuhan Pembaca” tersebut menjadi wadah pengembangan kemampuan literasi bagi kader IPNU-IPPNU maupun mahasiswa secara umum, khususnya dalam bidang kepenulisan yang komunikatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Seminar tersebut diikuti kader PK IPNU-IPPNU UIN SATU serta mahasiswa UIN SATU Tulungagung. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menulis, tidak hanya sebagai sarana ekspresi, tetapi juga sebagai media penyampaian gagasan yang mampu menjawab kebutuhan pembaca.
Ketua PK IPNU UIN SATU, Burhan Faizal Maskur, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut berfokus pada penguatan dasar-dasar penulisan, mulai dari pemilihan ide, penyusunan struktur tulisan, hingga penggunaan bahasa yang efektif.
“Melalui Litbang, kami ingin membentuk kader yang tidak hanya mampu menulis, tetapi juga memahami siapa pembacanya, sehingga pesan yang disampaikan benar-benar sampai,” ujarnya.
Selain pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan praktik langsung dan diskusi interaktif. Peserta diajak mengidentifikasi kebutuhan pembaca, menentukan gaya bahasa yang sesuai, serta mengembangkan tulisan yang memiliki nilai kebermanfaatan.
Salah satu peserta, Muhammad Farhan Nawawi, mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai cara menulis dengan sudut pandang pembaca.
“Biasanya kita menulis hanya berdasarkan apa yang ingin kita sampaikan, tetapi di sini diajarkan bagaimana memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan pembaca,” tuturnya.
Dalam seminar tersebut, pembina PK IPNU-IPPNU UIN SATU, Prof. Dr. H. Muhammad Muntahibun Nafis, M.Ag., hadir sebagai pemateri. Ia menekankan bahwa tulisan yang baik bukan sekadar panjang atau menggunakan bahasa yang rumit, melainkan tulisan yang mampu dipahami dan memberikan manfaat bagi pembaca.
Peserta juga diajak memahami pentingnya menentukan tujuan tulisan sebelum mulai menulis. Menurutnya, banyak tulisan kurang menarik karena penulis belum memahami arah dan pesan utama yang ingin disampaikan.
“Oleh karena itu, tulisan sebaiknya dibangun dari keresahan, pengalaman, maupun fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar memiliki nilai nyata dan relevansi bagi pembaca,” jelasnya.
Pada sesi diskusi, peserta tampak aktif mengajukan berbagai pertanyaan seputar kendala dalam menulis, mulai dari kesulitan menemukan ide, rasa kurang percaya diri terhadap hasil tulisan, hingga cara menjaga konsistensi menulis.
Pemateri pun memberikan motivasi agar peserta tidak takut memulai dan terus melatih kemampuan menulis secara bertahap.
“Kemampuan menulis tidak hadir secara instan, tetapi terbentuk melalui proses belajar serta kebiasaan membaca dan menulis secara rutin,” ungkapnya.
Kegiatan seminar berlangsung dengan antusias dan interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga melakukan praktik menulis singkat yang kemudian didiskusikan bersama.
Kegiatan ini juga menjadi bentuk komitmen Litbang dalam menciptakan ruang pengembangan intelektual kader yang berkelanjutan.
Kontributor: Yusuf Andi Qiawan Saputra
Editor: Achmad Subakti
