PK IPNU UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Gelar Webinar Nasional Ekoteologi, Soroti Harmoni Manusia

Cirebon, SiRekan

Rentetan bencana lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari banjir bandang, tanah longsor, kekeringan ekstrem hingga krisis air bersih, menegaskan rapuhnya relasi manusia dengan alam. Merespons kondisi tersebut, PK IPNU UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menggelar Webinar Nasional Ekoteologi: Harmoni Manusia dan Alam, Kamis (8/1/2026).

Webinar yang dimulai pukul 08.00 WIB ini diikuti oleh pelajar, mahasiswa, akademisi, serta pegiat lingkungan dari berbagai daerah. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi kritis untuk membaca bencana bukan semata sebagai fenomena alam, melainkan sebagai dampak dari cara pandang dan perilaku manusia terhadap lingkungan.

Ketua PK IPNU UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Rahman Zabidi, menegaskan bahwa meningkatnya intensitas bencana ekologis menuntut respons yang lebih mendalam dan berkelanjutan.

“Bencana hari ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia berkaitan erat dengan eksploitasi alam yang berlebihan, melemahnya etika lingkungan, dan pudarnya kesadaran spiritual manusia. Ekoteologi mengingatkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab keimanan,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan ini mampu menjadi titik temu antara refleksi keagamaan dan kesadaran ekologis, khususnya bagi generasi muda yang akan menghadapi dampak krisis lingkungan di masa depan.

Sesi pertama diisi oleh Dr. Debi Fajrin Habibi, M.Pd., Ketua Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi FUA UIN Siber Syekh Nurjati, dengan materi Psiko-Spiritualitas: Menyembuhkan Jiwa Melalui Kedekatan dengan Alam. Ia mengaitkan krisis lingkungan dengan krisis batin manusia modern.

“Banjir, longsor, dan kekeringan bukan hanya luka ekologis, tetapi juga tanda keterputusan spiritual manusia dari alam. Ketika alam diperlakukan semata sebagai objek eksploitasi, manusia kehilangan ruang kontemplasi yang menenangkan jiwanya,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan tasawuf ekologis dapat menjadi jalan pemulihan relasi harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam.

Pemateri berikutnya, Istiqomah, M.A., Sekretaris Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Siber Syekh Nurjati, mengangkat tema Bahasa Alam dan Literasi Ekofeminisme dalam Pendidikan. Ia menyoroti bahwa dampak bencana lingkungan kerap dirasakan lebih berat oleh kelompok rentan, terutama perempuan dan masyarakat marginal.

“Dalam banyak peristiwa bencana, perempuan berada di garis terdepan untuk bertahan hidup, tetapi suaranya sering terpinggirkan. Literasi ekofeminisme membantu kita membaca alam sebagai subjek yang memiliki ‘bahasa’, bukan sekadar sumber daya,” paparnya.

Perspektif lapangan disampaikan oleh Zikri Alvi Muharam, petani muda, melalui materi Gerakan Akar Rumput: Transformasi Kesadaran Menjadi Aksi. Ia membagikan pengalaman tentang dampak perubahan iklim terhadap pertanian, seperti ketidakpastian musim tanam dan menurunnya produktivitas lahan.

“Petani adalah kelompok pertama yang merasakan dampak krisis iklim. Kesadaran ekologis harus diterjemahkan menjadi praktik pertanian berkelanjutan dan gerakan komunitas berbasis desa,” tegasnya.

Sementara itu, Muhammad Fatru Alfislam, Duta Lingkungan Jawa Barat, menyoroti persoalan deforestasi dan alih fungsi lahan dalam materi Konservasi Hutan: Paru-Paru Bumi dalam Perspektif Kebijakan dan Praktis.

“Kerusakan hutan berarti hilangnya sistem penyangga kehidupan. Banjir dan longsor adalah peringatan nyata bahwa kebijakan konservasi harus dibarengi pengawasan dan partisipasi masyarakat,” ujarnya.

Webinar yang dimoderatori Ahmad Hapid ini menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan tunggal. Diperlukan integrasi antara nilai spiritual, kesadaran sosial, kebijakan publik, serta aksi nyata di tingkat akar rumput.

Melalui kegiatan ini, PK IPNU UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berharap ekoteologi tidak berhenti sebagai wacana akademik, tetapi menjadi landasan etik dan moral dalam merespons bencana lingkungan yang terus mengancam Indonesia, sekaligus ajakan kolektif untuk membangun kembali harmoni manusia dan alam demi keberlanjutan kehidupan.

Kontributor: Bahir Ramdani

Editor: Ikbar Zakariya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *