Jember, SiRekan
Dalam rangka memperkuat kapasitas intelektual dan manajerial organisasi di tingkat basis, Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU MA Ma’arif Ambulu resmi menyelenggarakan Basic Training Course (BASTRA). Kegiatan yang mengusung paradigma pendidikan transformatif ini berlangsung selama tiga hari, mulai 8 hingga 10 Maret 2026, di kompleks pendidikan MA Ma’arif Ambulu, Jember.
Kepala Madrasah MA Ma’arif Ambulu, Kasdib, S.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan bahwa BASTRA merupakan agenda rutin tahunan yang telah terjaga konsistensinya sejak tahun 1984. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan wadah strategis untuk menempa karakter kepemimpinan siswa.
“Kepemimpinan dimulai dari hal yang paling dekat: memimpin diri sendiri dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Kami berharap peserta menjadi generasi yang matang dalam berpikir dan bijak dalam bersikap,” ujar Kasdib.
Syarat Kelulusan dan Harapan Alumni
Kasdib juga menginstruksikan seluruh siswa kelas XI untuk mengikuti rangkaian kegiatan secara tuntas. Hal ini dikarenakan BASTRA telah ditetapkan sebagai salah satu syarat kelulusan sekolah. Ia menekankan bahwa peserta yang tidak menyelesaikan tahapan pelatihan wajib mengulang pada tahun berikutnya guna memastikan perolehan bekal yang utuh.“Banyak alumni kita yang kini telah berkiprah dan menjadi tokoh positif di masyarakat. Kami ingin siswa saat ini mampu melanjutkan jejak tersebut, minimal menjadi pribadi yang bertanggung jawab di lingkungannya,” tambahnya.
Senada dengan Kepala Madrasah, Ketua PK IPNU MA Ma’arif Ambulu, Rayhan Syafa Alfarizi, menyebut BASTRA sebagai “kawah candradimuka” untuk menciptakan SDM yang kompetitif. Fokus utama pelatihan ini adalah mencetak kader yang unggul secara moral (akhlaqul karimah) sekaligus tajam secara intelektual.
“Ini adalah manifestasi komitmen kami dalam kaderisasi progresif. Kami berupaya mencetak subjek penggerak yang mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi tanpa kehilangan identitas kulturalnya,” tegas Rayhan.
Keberhasilan BASTRA 2026 ini nantinya akan diukur melalui kemampuan peserta dalam mengimplementasikan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang aplikatif di lingkungan sekolah. Sinergi antara teori dan praktik diharapkan mampu menciptakan ekosistem organisasi yang lebih dinamis dan profesional.
Melalui penutupan kegiatan pada 10 Maret, diharapkan muncul gelombang baru pemimpin pelajar yang siap menjadi agen perubahan (agent of change) sekaligus garda terdepan penjaga nilai-nilai moderasi beragama di Kabupaten Jember.
Kontributor: Moh. Alfan Fikri Efendy
Editor: Fahri Reza M.
