Kudus, SiRekan
Pimpinan Cabang (PC) IPNU-IPPNU Kabupaten Kudus menyelenggarakan Latihan Instruktur (Latin) dan Latihan Pelatih (Latpel) pada 3–6 September 2026 di Gedung UIN Sunan Kudus. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas kader dalam bidang kepelatihan dan kaderisasi organisasi.
Mengusung tema “Level Up Trainer: Adaptif, Ekspresif, Progresif”, Latin–latpel dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi kader IPNU-IPPNU untuk meningkatkan kemampuan menjadi trainer, pelatih, dan instruktur yang mampu menjawab tantangan kaderisasi di tengah perkembangan zaman.
Ketua PC IPNU Kabupaten Kudus, Abdullah Basar dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan menjadi tantangan sekaligus komitmen bagi seluruh peserta.
Menurutnya, seorang instruktur atau pelatih harus memiliki tiga karakter utama, yakni adaptif, ekspresif, dan progresif. Adaptif berarti mampu membaca perubahan zaman dan menyesuaikan metode kaderisasi, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar perjuangan.
Ekspresif berarti mampu menyampaikan gagasan secara menarik, komunikatif, dan mampu menghidupkan suasana pembelajaran. Sementara progresif berarti memiliki kemauan untuk terus belajar, berkembang, melakukan evaluasi, serta menghadirkan inovasi dalam proses kaderisasi.
“Level Up Trainer bukan hanya tentang menjadi trainer yang lebih pintar, tetapi menjadi trainer yang lebih adaptif menghadapi perubahan, lebih ekspresif dalam menyampaikan ilmu, dan lebih progresif dalam membawa kader serta organisasi menuju masa depan,” ungkap Basar.
Lebih lanjut, dia menyebut posisi penting pelatih dan instruktur dalam keberlanjutan kaderisasi IPNU-IPPNU. Organisasi ini membutuhkan kader yang memiliki kapasitas, karakter, kemampuan berpikir, komunikasi, kepemimpinan, serta kesiapan untuk berkhidmah.
Oleh karena itu, keberhasilan Latin–Latpel tidak cukup diukur dari terselenggaranya kegiatan maupun bertambahnya pengetahuan peserta. Lebih dari itu, ilmu yang diperoleh diharapkan mampu diterapkan dalam proses kaderisasi di tingkat cabang, anak cabang, komisariat, hingga ranting.
“Ukuran keberhasilannya adalah ketika ilmu tersebut mampu kita transformasikan menjadi gerakan dan memberikan dampak nyata bagi kaderisasi IPNU-IPPNU di Kabupaten Kudus,” tegasnya.
Selain itu, melalui prinsip sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, diharapkan menjadi langkah strategis PC IPNU-IPPNU Kabupaten Kudus dalam memperkuat kualitas kaderisasi dan menyiapkan trainer-trainer muda nantinya.

Kontributor: M. Khasanul Muna
Editor: Fahri Reza M.
