PC IPNU-IPPNU Sidoarjo Gelar Latin dan Latpel, Siapkan Katalisator Kaderisasi

Sidoarjo, SiRekan
Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Sidoarjo menggelar Latihan Instruktur (Latin) dan Latihan Pelatih (Latpel) di Pondok Pesantren Modern Al-Amanah, Junwangi, Krian, Kamis-Ahad (4-7/6/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Be Elevate: Konfigurasi Katalisator Penggerak Kaderisasi” tersebut diikuti 25 kader terbaik IPNU dan IPPNU dari tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC) serta Pimpinan Komisariat (PK) Perguruan Tinggi se-Kabupaten Sidoarjo.

Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, Agus Mahbub Ubaidillah, yang membuka kegiatan secara resmi, menegaskan bahwa Latin dan Latpel bukan sekadar ruang peningkatan kapasitas kader. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan momentum strategis untuk menyiapkan penggerak kaderisasi yang mampu menjawab tantangan organisasi di masa depan.

Dalam sambutannya, ia mengibaratkan peran instruktur dan pelatih seperti seorang pelatih mengemudi yang tidak hanya mampu mengoperasikan kendaraan, tetapi juga memahami cara merawat dan menjaga performanya. Analogi tersebut menggambarkan bahwa instruktur dan pelatih tidak cukup hanya menguasai materi, melainkan juga harus mampu membangun sistem kaderisasi yang sehat, terarah, dan berkelanjutan.

“Instruktur dan pelatih harus memahami seluruh aspek organisasi, membimbing kader, serta memastikan proses kaderisasi berjalan dengan baik. Dengan begitu, kader yang lahir akan memiliki kualitas dan kesiapan untuk berkhidmah di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap pelatihan tersebut mampu melahirkan instruktur dan pelatih yang kompeten, visioner, serta memiliki semangat pengabdian tinggi dalam menjaga estafet perjuangan Nahdlatul Ulama.

“Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan komitmen yang diperoleh selama pelatihan, instruktur dan pelatih harus menjadi ujung tombak kaderisasi yang menjaga keberlanjutan perjuangan Nahdlatul Ulama di masa depan,” tuturnya.

Sementara itu, Instruktur PW IPNU Jawa Timur, M. Wahyudin Aziz, menekankan pentingnya peran instruktur dan pelatih sebagai katalisator perubahan dan percepatan kaderisasi di lingkungan IPNU-IPPNU.

“Sidoarjo merupakan salah satu daerah strategis di Jawa Timur dan menjadi bagian penting kawasan Gerbangkertosusila. Karena itu, kader-kader Sidoarjo harus terus didorong melalui strategi kaderisasi yang kuat agar mampu melahirkan generasi penerus yang berkualitas,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan instruktur dan pelatih menjadi faktor penting dalam membangun sistem kaderisasi yang berkelanjutan. Mereka tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menjadi penggerak lahirnya kader-kader baru di tingkat ranting maupun komisariat.

“Calon instruktur dan calon pelatih harus menjadi katalisator perubahan serta katalis perjuangan untuk Nahdlatul Ulama ke depan. Mereka harus mampu mendorong percepatan kaderisasi dan regenerasi organisasi,” tegasnya.

Ketua PC IPNU Sidoarjo, M. Fachrudin, menjelaskan bahwa Latin dan Latpel merupakan tahapan strategis dalam menyiapkan kader yang akan menjadi pengawal sekaligus penggerak kaderisasi organisasi di masa mendatang.

Menurutnya, tema Be Elevate mengandung semangat untuk terus meningkatkan kualitas kaderisasi, baik dari aspek sistem, pengorganisasian, maupun kualitas sumber daya kader yang dihasilkan.

“Tema Be Elevate mengandung semangat untuk terus meningkatkan kualitas kaderisasi, baik dari sisi sistem, pengorganisasian, maupun kualitas kader yang dihasilkan. Pengkaderan tidak boleh berjalan biasa-biasa saja, tetapi harus terus berkembang dan melahirkan kader-kader unggul,” ujarnya.

Alumnus Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya tersebut menambahkan bahwa instruktur dan pelatih memiliki peran vital dalam mempercepat pengembangan organisasi, terutama dalam mendukung pembentukan ranting dan komisariat di wilayah yang belum memiliki kepengurusan.

Meski Kabupaten Sidoarjo dikenal sebagai salah satu daerah dengan jumlah ranting dan komisariat terbanyak di Jawa Timur, penguatan kaderisasi di tingkat akar rumput tetap menjadi prioritas organisasi. Karena itu, pelaksanaan Latin dan Latpel dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat sistem kaderisasi secara menyeluruh.

“Calon instruktur dan pelatih harus menjadi katalisator perubahan yang mampu mendorong percepatan kaderisasi dan regenerasi organisasi,” pungkasnya.

Kontributor: Maschan Yusuf
Editor: Achmad Subakti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *