Batang, SiRekan
Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Batang ikut menyukseskan acara peringatan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama, yang berada di Jl. Veteran Alun-alun Kabupaten Batang pada Minggu (01-02).
Pada peringatan Harlah 1 Abad NU ini, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah mengusung tema “Mengabdi dengan hati, Melayani dengan aksi”. Rangkaian kegiatan dimulai pada pukul 15.00 WIB dengan diadakannya Apel Kemanusiaan, kemudian dilanjut dengan Istighosah Kubro, Khataman Al Qur’an, dan ngaji kitab Aisyul Bahri pada pukul 20.00 WIB.
Kegiatan ini dihadiri oleh warga Nahdliyyin di seluruh penjuru Jawa Tengah. Selain itu, kegiatan Harlah ini juga dihadiri langsung oleh Rois Syuriah dan Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, K.H. Ubaidullah Shodaqoh dan H. Abdul Ghaffar Rozin; Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan dan Wakil Bupati Batang, Suyono; Rois Syuriah dan Tanfidziah PCNU Batang, H. Munir Malik dan K.H. Muhammad Luthfi; serta Banom NU (Pagar Nusa, Fatayat, Muslimat, Ansor, Banser, Pergunu, LPBI) dari seluruh wilayah di jawa Tengah.
Bertindak sebagai pembina apel, Gus Rozin menekankan bahwa khidmah NU selalu dimulai dari hal-hal kecil dan dekat dengan kehidupan umat. “Penting bagi Pelajar NU agar aktif hadir di lingkungan sekolah, pesantren, dan masyarakat, tidak hanya sebagai peserta kegiatan, tetapi sebagai penggerak yang membawa manfaat,” tandasnya.
Muhammad Alfin Imtiyaz Hakim, Ketua PAC IPNU Batang mengajak seluruh Pelajar NU agar turut berjuang agar kelak diakui sebagai santrinya Hadratusyaikh K.H. Hasyim Asy’ari. “Melalui momentum luar biasa ini, mari kita perkuat doa agar pengabdian kita di jam’iyyah ini diakui oleh Mbah Hasyim, sehingga kita semua layak menyandang gelar sebagai santri beliau,” sambungnya.
Alfin juga menyebut Harlah 1 Abad NU ini menjadi momen bersejarah bagi warga Nahdliyin di Kabupaten Batang, khususnya di Kecamatan Batang. “Kehadiran jajaran Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah menjadi suntikan motivasi dan loyalitas bagi Pelajar NU di tingkat PAC Batang,” tutur Alfin.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa momen satu abad NU mengajarkan bahwa proses kaderisasi tidak berhenti pada identitas keorganisasian, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata. NU tumbuh besar karena tradisi belajar, mengabdi, dan menjaga akhlak yang diwariskan para ulama sejak awal berdirinya.
“Pelajar NU dinilai memiliki peran strategis sebagai penjaga tradisi keilmuan sekaligus agen perubahan. Melalui IPNU dan IPPNU, pelajar didorong untuk menguatkan literasi keislaman, keilmuan, dan kebangsaan sebagai bekal menghadapi tantangan zaman. Tradisi pesantren yang melahirkan NU menjadi pelajaran bahwa ilmu harus dibarengi adab dan tanggung jawab sosial,” tutupnya.
Kontributor: Lutfi Maulana, Abed
Editor: Fahri Reza M.
