Menjawab Arahan PBNU: Saatnya Pelajar NU Menaklukkan AI Tanpa Kehilangan Jati Diri Pesantren

Silaturahim dan audiensi Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) bersama Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, di Gedung PBNU Jakarta Pusat pada Kamis (24/9/2026) lalu, membawa pesan substansial bagi perjalanan organisasi menuju perhelatan Kongres yang digelar di Pondok Pesantren darul Amanah Kendal pada 26-29 November mendatang.

Gus Kikin, sebagaimana dilansir dari NU Online, menitipkan pesan krusial agar Kongres XXI IPNU dan Kongres XX IPPNU nanti tidak sekadar menjadi ajang seremonial atau pergantian estafet kepemimpinan belaka. Lebih jauh, forum tertinggi organisasi pelajar ini dituntut mampu melahirkan keputusan-keputusan strategis dalam merespons tantangan era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan tetap berpijak teguh pada Qanun Asasi serta tradisi keilmuan pesantren.

Bagi jutaan pelajar, santri, dan mahasiswa yang berada di garis terdepan kepengurusan dari tingkat pusat hingga komisariat, arahan Ketum PBNU tersebut bukanlah sekadar nasihat oratoris. Pesan itu merupakan panggilan zaman yang mendesak untuk segera dijawab dengan kerja-kerja organisasi yang terukur.

Hari ini, realitas ruang gerak pelajar telah bergeser secara drastis. Kecerdasan buatan bukan lagi sekadar wacana fiksi ilmiah, melainkan telah menjadi instrumen harian yang digunakan generasi muda untuk belajar, berkreasi, hingga mencari rujukan informasi keagamaan. Namun, akselerasi teknologi ini ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi dan kemudahan akses pengetahuan yang tanpa batas. Di sisi lain, jika tidak diimbangi dengan kedalaman literasi dan fondasi etika, AI berpotensi mengikis daya kritis, mendegradasi pemahaman atas pentingnya sanad keilmuan, serta mempermudah penyebaran narasi-narasi instan yang nihil kearifan.

Sebagai organisasi tempat berhimpunnya pelajar NU, sikap fobia teknologi dengan menolak kemajuan sama buruknya dengan sikap kritis buta yang menelan mentah-mentah arus digitalisasi. Arahan PBNU menuntut kader IPNU-IPPNU untuk bersikap adaptif sekaligus selektif. Tantangan utamanya adalah bagaimana membumikan nilai-nilai Qanun Asasi Nahdlatul Ulama yang dirumuskan oleh Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy’ari ke dalam ruang algoritma modern. Prinsip persatuan, kedalaman ilmu keagamaan (tafaqquh fiddin), serta kepribadian berakhlakul karimah harus dijadikan kompas etis dalam berinteraksi dengan kecanggihan teknologi.

Perlu disadari bersama juga, bahwa AI dapat menyajikan ribuan jawaban atas pertanyaan keagamaan dalam hitungan detik, tetapi sistem kecerdasan buatan tidak akan pernah memiliki keberkahan sanad, rasa empati, maupun kearifan spiritual sebagaimana yang diajarkan para kiai dan guru di pesantren. Oleh karena itu, keberadaan IPNU dan IPPNU di era digital adalah untuk memastikan bahwa kecanggihan teknologi dimanfaatkan sebagai alat bantu bertafakur dan berdakwah, bukan malah menggeser posisi ulama dan tradisi sowan yang menjadi ruh peradaban NU.

Sudah saatnya kader IPNU-IPPNU bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi menjadi pencipta inovasi berbasis AI, seperti mengadaptasi kecerdasan buatan untuk digitalisasi manuskrip kitab kuning, otomatisasi media dakwah yang ramah anak muda, hingga pengembangan platform pembelajaran inklusif di sekolah dan pesantren.

Oleh karena itu, forum tersebut harus menjadi momentum perumusan roadmap gerakan yang konkret, mulai dari pembaruan kurikulum kaderisasi yang memasukkan literasi etika digital dan AI, penguatan basis pelajar di sekolah-sekolah formal pasca-kebijakan peremajaan usia kader, hingga pembentukan pusat advokasi pelajar yang merespons isu-isu siber dan kesehatan mental.

Sesuai dengan arah besar yang diusung, “Pelajar NU: Kader Muda Cahaya Peradaban”, gagasan tersebut hanya akan menjadi slogan jika organisasi gagal merespons peradaban baru yang didominasi oleh kecerdasan buatan. Silaturahim dan arahan PBNU telah mempertegas kompas perjuangan organisasi.

Kini, tugas seluruh kader di setiap tingkatan kepengurusan adalah menerjemahkan arahan tersebut ke dalam aksi nyata. Pelajar NU harus mampu membuktikan diri sebagai generasi yang berdiri tegap di era AI, yakni berotak modern, berteknologi canggih, namun tetap berhati dan berakhlak pesantren.

Penulis: Achmad Subakti, Tim Jurnalistik PP IPNU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *