Kudus, SiRekan
Suara komando dan sirine simulasi memecah keheningan Rabu sore (7-10) di Gedung PCNU Kab. Kudus. Puluhan rekan dan rekanita berseragam dinas lapangan bergerak memetakan zona rawan bencana, membuat posko evakuasi hingga mengolah pangkalan data logistik. Mereka adalah kader Corp Brigade Pembangunan (CBP) dan Korps Pelajar Putri (KPP) Kabupaten Kudus yang tengah mengikuti “Diklat Kemanusiaan”, dengan materi mitigasi bencana, serta penguatan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin).
Latihan yang digelar oleh dua lembaga semi otonom PC IPNU-IPPNU Kabupaten Kudus ini dirancang senyata mungkin dengan kondisi darurat lapangan. Latihan ini menjadi pondasi utama dalam membentuk relawan yang tangguh, cepat, dan terukur saat menghadapi potensi bencana alam. Bencana alam, seperti banjir tahunan di wilayah dataran rendah, maupun tanah longsor di kawasan lereng Gunung Muria butuh penanganan sigap.
Saat mengawasi jalannya simulasi, Komandan Dewan Koordinasi Cabang (DKC) CBP Kudus, Muhammad Shochibul Wafa menegaskan pentingnya kedisiplinan dan porsi latihan yang berat bagi relawan muda. “Kami selalu menanamkan satu doktrin utama kepada seluruh kader. Lebih baik gagal di medan latihan daripada gagal di medan kebencanaan,” tegasnya.
Menurut Wafa kesalahan saat latihan bisa langsung dievaluasi dan diperbaiki. Namun, di lokasi bencana nyata, kesalahan sekecil apapun mempertaruhkan keselamatan jiwa warga yang sedang dievakuasi.
Ketua PC IPPNU Kabupaten Kudus, Rizky Nailil Chusna menegaskan bahwa penanganan kebencanaan modern tidak hanya mengandalkan ketahanan fisik dan niat baik semata. Keakuratan tata kelola data, serta kepekaan pendampingan psikososial kini menjadi dua pilar utama yang harus dikuasai oleh para relawan kemanusiaan, khususnya kader Korps Pelajar Putri (KPP).
Dalam penjelasannya, keberadaan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) merupakan tulang punggung operasional lapangan. Tanpa validasi data presisi, penyaluran bantuan dan proses evakuasi berisiko tumpang tindih dan tidak merata. “Aksi kemanusiaan harus bergerak dengan kecerdasan data. Tim Pusdatin bertugas memastikan peta kebutuhan logistik dan jumlah pengungsi tercatat secara akurat,” sambungnya.
Rizky menambahkan bahwa kecermatan data sangat krusial untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lansia di posko pengungsian.
Selain sektor data, perhatian utama PC IPPNU Kudus tertuju pada pemulihan kondisi mental dan emosional warga di tempat pengungsian. Dari pelatihan tersebut Kader KPP dibekali keterampilan memimpin aksi pendampingan psikososial dan trauma healing. Melalui integrasi data Pusdatin dan pendekatan emosional yang inklusif, PC IPPNU Kudus berkomitmen mencetak kader KPP yang sigap, empati, dan profesional.
Beratnya tahapan latihan dirasakan langsung oleh Ridwan Maulana (19), salah seorang Peserta Diklat Kemanusiaan. Bagi Ridwan, kombinasi antara perencanaan mitigasi bencana, keakuratan data Pusdatin, serta eksekusi langsung di lapangan benar-benar memeras pikiran dan tenaga seluruh relawan.
“Kami harus bergerak cepat mendirikan posko serta melakukan evakuasi, sembari tetap dituntut teliti mengolah data warga secara presisi untuk sistem Pusdatin,” ujarnya.
Menurut Ridwan, belajar berpikir cepat, ketahanan fisik, dan koordinasi berbasis data adalah kunci utama keselamatan. Sinergi semua hal tersebut adalah bukti bahwa CBP-KPP Kabupaten Kudus siap menjadi benteng kemanusiaan yang tangguh, cerdas, dan diandalkan masyarakat.
Kontributor: M. Khasanul Muna
Editor: Fahri Reza Muhammad
