Lombok Tengah, SiRekan
Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama santri Pondok Pesantren Irsyadul Hayat dan masyarakat menggelar Gebyar Muharram 1448 H pada Senin (15/6/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Irsyadul Hayat, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah.
Mengusung tema “Meneguhkan Semangat Pelajar dan Jam’iyah Nahdliyyin untuk Mewujudkan Generasi Berilmu, Berakhlak, dan Berkemajuan”, kegiatan ini menjadi momentum memperkuat nilai-nilai keislaman, kepelajaran, dan kebangsaan sekaligus mempererat sinergi antara pelajar, santri, dan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan sosial.
Ketua PW IPNU NTB, Muhammad Iskandar Haris, dalam sambutannya menyoroti maraknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang menjadi perhatian serius di tengah masyarakat. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan langkah strategis yang melibatkan seluruh elemen, termasuk organisasi kepelajaran dan kepemudaan.
Ia mendorong pemerintah agar segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti Kekerasan dan Pelecehan Seksual sebagai langkah konkret dalam upaya pencegahan, edukasi, pendampingan korban, hingga penanganan kasus secara komprehensif dan berkelanjutan.
“IPNU memiliki basis kader pelajar yang luas hingga tingkat akar rumput dan bersentuhan langsung dengan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan seksual. Oleh karena itu, IPNU merupakan instrumen yang tepat dan efektif dalam melakukan pencegahan, edukasi, advokasi, maupun pendampingan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya melibatkan PW IPNU NTB dalam proses pembentukan maupun pelaksanaan Satgas tersebut agar langkah yang diambil lebih efektif dan menyentuh langsung kebutuhan pelajar.
Lebih lanjut, Iskandar berharap kehadiran Satgas Anti Kekerasan dan Pelecehan Seksual dapat menjadi ruang kolaboratif antara pemerintah, lembaga pendidikan, pesantren, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan ramah bagi anak serta pelajar.
Sementara itu, Samsul Hadi, S.Pd., M.Si., yang hadir mewakili Majelis Alumni (MA) IPNU NTB, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Gebyar Muharram 1448 H dan langkah PW IPNU NTB dalam merespons isu-isu aktual di masyarakat.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan peran strategis organisasi pelajar sebagai agen perubahan yang tidak hanya berfokus pada pengembangan kapasitas kader, tetapi juga hadir memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa setiap gerakan dan gagasan harus mampu memberikan dampak nyata. Respons terhadap isu kekerasan dan pelecehan seksual, menurutnya, tidak cukup berhenti pada diskusi, seminar, atau rekomendasi semata, tetapi harus ditindaklanjuti dengan program yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.
“IPNU harus menjadi pelopor gerakan yang mampu menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat. Kepedulian terhadap isu kekerasan dan pelecehan seksual harus diwujudkan dalam langkah-langkah yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh pelajar, santri, dan masyarakat luas,” katanya.
Melalui Gebyar Muharram 1448 H ini, PW IPNU NTB bersama santri Irsyadul Hayat dan masyarakat menegaskan komitmennya untuk terus menguatkan peran pelajar Nahdliyyin dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan semangat kemajuan.
Kontributor: Ikbar Zakariya
Editor: Achmad Subakti
