Bedah Buku Karya Kalis Mardiasih, PKPT IPNU-IPPNU Bagu Bangun Ruang Dialog Keberagaman

Lombok Tengah, SiRekan

PKPT IPNU-IPPNU UNIQHBA–IAIQH Bagu menggelar bedah buku Esok Jilbab Kita Dirayakan: Muslimah yang Merdeka Tanpa Menindas yang Berbeda karya Kalis Mardiasih di Auditorium IAIQH lantai 3, Senin (9/6/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi kader, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk mendiskusikan keberagaman pandangan tentang perempuan, jilbab, dan kemerdekaan dalam perspektif Islam.

Mengusung tema “Merayakan Keberagaman, Meneguhkan Kesetaraan: Membaca Ulang Makna Jilbab dan Kemerdekaan Muslimah”, forum tersebut menghadirkan Ustazah Aenullael Mukarromah, M.Pd. sebagai narasumber utama.

Ketua PKPT IPNU UNIQHBA–IAIQH, Budi Risqi Saputra, mengatakan kegiatan bedah buku merupakan bagian dari upaya organisasi dalam memperkuat budaya literasi sekaligus membangun tradisi berpikir kritis di kalangan pelajar dan mahasiswa.

“Kegiatan ini bukan hanya membahas isi buku, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama untuk memperluas wawasan, memperkuat tradisi intelektual, serta menumbuhkan sikap terbuka terhadap berbagai perbedaan yang ada di tengah masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PKPT IPPNU UNIQHBA–IAIQH, Nurul Aini, menilai forum literasi penting untuk memperkuat kepercayaan diri kader perempuan dalam menyampaikan gagasan dan mengambil peran di tengah masyarakat.

Dalam pemaparannya, Ustazah Aenullael Mukarromah menjelaskan bahwa buku karya Kalis Mardiasih tersebut mengajak pembaca memahami beragam perspektif mengenai perempuan dan jilbab dalam bingkai nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Menurutnya, perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Sebaliknya, keberagaman pemikiran dapat menjadi sarana memperkaya wawasan serta memperkuat sikap saling menghormati.

“Perbedaan adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk berdialog dan saling memahami tanpa harus meniadakan pandangan yang berbeda,” terang Aenullael.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah peserta aktif mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pandangan terkait isu perempuan, kebebasan berekspresi, hingga tantangan literasi di kalangan generasi muda.

Pada akhir kegiatan, narasumber memberikan penghargaan kepada enam peserta yang dinilai paling aktif selama sesi diskusi. Apresiasi tersebut diberikan sebagai bentuk motivasi untuk meningkatkan semangat membaca, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan secara konstruktif.

Ketua Demisioner PKPT IPNU UNIQHBA–IAIQH masa khidmat 2024–2025, Muhammad Ardhi Hermawan, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi harus terus dirawat sebagai bagian dari identitas kader organisasi.

“Organisasi akan berkembang apabila kadernya memiliki tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus dilaksanakan agar lahir kader-kader yang kritis, berwawasan luas, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” katanya.

Melalui kegiatan ini, PKPT IPNU-IPPNU UNIQHBA–IAIQH Bagu berharap dapat terus menghadirkan forum-forum intelektual yang mendorong tumbuhnya budaya literasi, memperkuat pemikiran kritis, serta mempererat ukhuwah di kalangan kader dan mahasiswa.

Kontributor: Muhammad Ardhi Hermawan
Editor: Ikbar Zakariya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *